Tari Gandai: Tari Tradisional Masyarakat Bengkulu yang Hampir Kehilangan Eksistensinya

Tahukah kalian Suku Pekal yang berada di Kabupaten Muko-muko, Provinsi Bengkulu? Suku Pekal mempunyai kesenian bernama Tari Gandai. Tari Gandai diambil dari kata “Gando” yang memiliki arti ganda atau berpasangan. Maka dari itu, Tari Gandai biasanya dilakukan secara berpasangan oleh remaja putri.

Masyarakat Pekal zaman dahulu akan berkumpul  setiap malam Jumat di balai desa atau di halaman rumah kepala desa untuk menyambut pembukaan lahan baru atau merayakan hasil panen. Pemilihan tempat tersebut ditujukan sebagai bentuk penghormatan kepada kepala desa dan untuk memudahkan masyarakat. Mereka akan bersukacita dan melepaskan rasa lelahnya dengan berbincang, menari, dan berbalas pantun dari pukul 7 malam hingga pukul 6 pagi.

Menurut keyakinan masyarakat Pekal, Tari Gandai telah berada di Indonesia sejak abad ke-15, yaitu sekitar tahun 1600-an. Mereka yakin Tari Gandai berasal dari kisah Malim Deman dan Puti Bungsu. Kisah ini menceritakan tentang pernikahan manusia bumi, yaitu Malim Deman dengan manusia langit, yaitu Putri Muhammad Duyah.

Mereka melakukan pernikahan dikarenakan oleh Malim Deman yang menyembunyikan baju Putri Bungsu ketika sedang mandi di sungai bersama enam saudaranya, sehingga Putri Bungsu tidak dapat kembali ke tempat asalnya. Pernikahan mereka dikaruniai satu orang anak bernama Malim Dewa. Sayangnya pernikahan mereka diakhiri oleh perpisahan karena Malim Demam tidak bisa meninggalkan kebiasaannya menyabung ayam. Putri Bungsu akhirnya menemukan kembali bajunya dan pulang ke tempat asalnya.

Tari Gandai ini pada mulanya diperuntukkan kepada Malim Deman agar ia tidak bersedih setelah ditinggal oleh Putri Bungsu. Gerakan Tari Gandai diadaptasi dari gerakan satwa yang mengilustrasikan kekecewaan Malim Deman ketika ia ditinggalkan oleh Putri Bungsu.

Zaman sekarang, Tari Gandai sering digunakan sebagai acara hiburan dari upacara adat dan pesta rakyat, seperti pernikahan, khitanan, upacara penyambutan tamu, lomba, perayaan ulang tahun kabupaten, dan lain-lainnya.

Jumlah penari pada Tari Gandai sekurang-kurangnya terdapat enam orang yang terdiri dari pemukul redap, peniup alat musik serunai, pemukul gong, satu orang perempuan atau laki-laki sebagai penyanyi dan sisa pemainnya akan menari secara berpasangan.

Tari Gandai terbagi menjadi tiga berdasarkan penarinya. Di kabupaten Muko-muko umumnya Tari Gandai ditarikan oleh dua orang perempuan secara berpasangan. Terdapat juga Tari Gandai bertautan yang ditarikan oleh dua orang laki-laki secara berpasangan. Jika tarian dilakukan oleh pasangan perempuan dan laki-laki maka dinamakan Tari Gandai ambat.

Pada Tari Gandai terdapat 36 gerakan yang berbeda. Tetapi hanya 26 gerakan yang diingat, sedangkan sisanya hanya masyarakat terdahulu yang mengetahuinya. Pada penampilannya tidak semua 26 gerakan ditarikan. Biasanya penari hanya menarikan enam sampai 12 gerakan karena menurut mereka gerakan tersebut sudah mewakilkan keseluruhan gerakan.

Gerakan-gerakan Tari Gandai adalah sebagai berikut:

  1. Nenet, diambil dari suara senai yang ditiup.
  2. Sementaro, gerakan ini mengilustrasikan bahwa kita hidup hanya sementara dan memberikan pesan untuk kita agar selalu taat beribadah dan memiliki sifat toleransi kepada sesama.
  3. Sumpaya Cehai Kasiak, gerakan ini mengilustrasikan bahwa tidak baik untuk berpisah. Kita harus menjaga keharmonisan dengan pasangan bagi yang sudah menikah dan bagi yang belum menikah kita harus hormat kepada orangtua.
  4. Laluine, gerakan ini mengilustrasikan sifat seseorang yang egois tidak disukai masyarakat, sehingga kita tidak boleh memiliki sifat egois terhadap orang lain.
  5. Menjung, gerakan ini mengilustrasikan bahwa tidak selamanya kehidupan berjalan lurus saja, pasti terdapat lika-likunya. Gerakan ini memberikan kita pesan agar selalu ikhlas dalam menjalani sebuah kehidupan.
  6. Lampu, gerakan ini mengilustrasikan tentang masyarakat Pekal yang masih menggunakan lampu teplok minyak tanah. Gerakan ini berfungsi untuk menyindir pemerintah agar memperhatikan rakyat Pekal.
  7. Sunai Indai, gerakan ini mengilustrasikan tentang kesedihan seorang wanita yang ditinggal menikah oleh sang kekasih.
  8. Retak Kudo, gerakan ini dinamakan retak kudokarena gerakannya seperti rentakan kuda saat berjalan. Retak kudomengilustrasikan tentang emansipasi wanita.
  9. Payung, gerakan ini dimaksudkan sebagai pelindung yang memiliki makna bahwa para perempuan harus bisa menjaga harga dirinya.
  10. Lori, kendaraan yang digunakan masyarakat Pekal untuk bekerja mencari emas di daerah Lebong Tandai. Lori memiliki empat roda dan berjalan diatas rel seperti kereta.
  11. Behang Kakok Behang, gerakan ini mengilustrasikan tentang kucing yang hidup di sepanjang sungai Ketahun yang memakan ikan-ikan kecil.
  12. Kepal Tebang, gerakan ini mengilustrasikan tentang keinginan masyarakat Pekal untuk menaiki pesawat yang terbang diatas kecamatan Ketahun. Gerakan ini memberi kita pesan agar kita tidak malas belajar atau bekerja agar keinginan kita tercapai.
  13. Piring, gerakan ini mengilustrasikan tentang piring yang biasa digunakan masyarakat Pekal untuk makan.
  14. Tehong Tunjuk, gerakan ini mengilustrasikan tentang kemahiran masyarakt Pekal dalam mengolah terong untuk bahan pangan.
  15. Kalebang, gerakan ini mengilustrasikan tentang penantian seseorang terhadap orang yang dikasihinya saat pergi merantau.
  16. Jek Sayang,  gerakan ini mengilustrasikan tentang hubungan yang berakhir tidak bahagia karena tidak mendapatkan restu orang tua.
  17. Kuau, gerakan ini meceritakan tentang seekor burung bernama Kuau. Burung ini akan berkicau pada siang hari sebagai penanda waktu salat zuhur.
  18. Ambat, gerakan ini biasanya ditarikan oleh pengantin.
  19. Sungai Ipuh, gerakan ini mengilustrasikan sungai bernama Ipuh yang berada di daerah Mukomuko.
  20. Tok Ideng-Ideng, gerakan ini mengilustrasikan tentang humor yang beredar di masyarakat Pekal.
  21. Tetirau, gerakan ini mengilustrasikan burung bernama tetirau yang akan keluar sarang ketika magrib datang. Burung akan menjadi penanda jika waktu salat magrib datang.
  22. Ejang alesuk. Gerakan ini biasa ditarikan pengantin jika hapal gerakannya.
  23. Kakelara, gerakan ini mengilustrasikan tentang seseorang yang bernama Kakelara. Kakelara dikenal pemalas tetapi ia pandai menarik perhatian. Ia terbunuh pada saat pemberontakan PRRI di Desa Urai.
  24. Pono, merupakan istilah untuk pantun yang beredar di masyarakt Pekal.
  25. Poyik Belagu, gerakan ini mengilustrasikan tentang dua ekor burung puyuh yang bertengkar untuk memperebutkan makanan.
  26. Doyak Dorai, gerakan ini mengilustrasikan lenggang yang berirama dan selaras.

Sayangnya, masyarakat mulai meninggalkan tradisi ini, sehingga tidak banyak orang tahu tentang Tari Gandai. Seharusnya kita tetap melestarikan kesenian-kesenian tradisional sehingga dapat dikenal oleh dunia.